Home » Kabar Kepri » Sebabkan Kanker, RSUD Bintan Tarik Obat Lambung Ranitidin
Kepala BPOM Penny K Lukito (tengah) didampingi Ketum Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI) Nurul Falah (kiri), dan Ketua Bidang Advokasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dr Prasetyo Widhi Buwono (kanan) memberikan keterangan pers terkait hasil pengujian terhadap cemaran N-Nitrosodimethylamine (NDMA) dalam produk obat yang mengandung Ranitidin, di Kantor BPOM, Jakarta, Jumat (11/10/2019). Berdasarkan kajian terhadap hasil pengujian yang telah dilakukan sampai dengan 9 Oktober 2019 terhadap adanya NDMA pada produk ranitidin, BPOM memerintahkan seluruh industri farmasi pemegang izin edar dan produksi ranitidin menghentikan produksi, distribusi dan penjualan dalam rangka kehati-hatian untuk melindungi masyarakat.

Sebabkan Kanker, RSUD Bintan Tarik Obat Lambung Ranitidin

BINTAN – RSUD Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, tidak lagi memberikan obat lambung ranitidin yang dianggap dapat memicu penyakit kanker, kepada pasien.

“Obat yang sudah ditarik (Dinkes) sebanyak 17.300 tablet, dan 3.975 ampul,” ujar Dirut RSUD Bintan, Benni Antomi, Senin (14/10/2019), dikutip dari Bisnis.com.

Menurut Benni, penarikan dilakukan sesuai instruksi Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat yang meminta agar obat ranitidin itu tidak diedarkan kepada pasien atau masyarakat di Bintan.

Obat dimaksud terdiri dari dua jenis, yaitu ranitidin tablet 150 mg dan ranitidin injeksi 25 mg hasil produk PT Dexa Medika, dan PT Hexparm Jaya.

“Intruksi Dinkes Bintan, obat itu dikembalikan ke pihak distributor yaitu PT Anugrah Agron Medical,” katanya.

Kendati kedua jenis obat itu sudah diamankan dan tak boleh diedarkan, Benni menyatakan hal tersebut tidak berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan obat bagi pasien sebab masih banyak alternatif obat lambung lainnya di rumah sakit ini.

“Karena pada dasarnya penggunaan ranitidin adalah obat yang menurunkan produksi asam lambung saja,” katanya.

BPOM melalui laman resminya www pom.go.id, memutuskan menghentikan sementara peredaran obat yang mengandung ranitidin setelah mendapat pemberitahuan dari Badan Pangan dan Obat-obatan Amerika Serikat, dan Badan Obat Eropa mengenai keamanan obat-obatan yang mengandung ranitidin.

BPOM menyebutkan bahwa menurut studi global ambang batas NDMA yang diperbolehkan adalah 96 nanogramper hari. Konsumsi NDMA melebihi ambang batas tersebut dalam jangka lama bisa menimbulkan kanker.

 

Redaksi / Editor : Amran

x

Check Also

Ngesti Pastikan 33 Desa di Natuna Siap Ikuti Pilkades Serentak 2019

Sumatratimes.com : Wakil Bupati Natuna Hj Ngesti Yuni Suprapti, melaksanakan peninjauan disejumlah Desa yang akan ...