Home » Advetorial » Angelica Ayu: Pengacara Yang Sukses Bisnis Laundry Koin
Lanundry koin

Angelica Ayu: Pengacara Yang Sukses Bisnis Laundry Koin

 

Wanita ini terbiasa menghadapi kasus hukum yang rumit. Nyatanya usaha laundry koin bersama keluarga juga perlu usaha ekstra seperti halnya dengan kasus hukum.

Dikutip dari Daya.id, latar pendidikan Angelica Ayu, pasca sarjana hukum dari Belanda. Tapi Angelica Ayu tetap memiliki minat serius untuk wirausaha. Bukan usaha glamour atau butik-butik cantik ala wanita ibu kota, melainkan usaha cuci baju rumahan, alias laundry koin, yang diberi merek dagang Laundry Co.

Ibu satu anak ini tidak menjalankan usahanya sendirian melainkan bersama keluarganya, yaitu ibu dan adik-adiknya.

“Awalnya, saya hanya ikut patungan modal dan mengurus segala urusan hukum, seperti perijinan usaha dan lain-lain,” ujar wanita yang terjun langsung hampir di segala sisi roda usaha Laundry Co.

 

Tak Punya Latar Belakang Wirausaha

Konon, ketika tawaran usaha laundry koin datang menghampiri keluarganya di tahun 2013 lalu, jenis usaha cuci baju dengan mesin cuci koin ini belum menjamur seperti sekarang.

Jenis laundry yang masih tren -hingga sekarang- adalah laundry kiloan dengan mesin cuci umum.  Selain tantangan marketing, tantangan operasional dan SDM juga tidak kalah serius.

“Seluruh anggota keluarga saya, kecuali ayah saya, tidak ada yang memiliki latar belakang wirausaha. Semuanya memiliki karier di industri swasta. Apalagi ibu saya yang memang sudah menjadi wanita karier sejak dulu,” tutur wanita berusia 32 tahun ini.

Apalagi, di tahun-tahun awal bisnis laundry koin ini, ia sendiri masih aktif bekerja di salah satu firma hukum bergengsi yang berkantor di pusat kota dengan jadwal kerja yang sangat padat.

Selain, tantangan SDM dari para anggota keluarganya yang belajar mengenai wirausaha usaha laundry koin sambil menjalankannya, tantangan SDM lainnya adalah merekrut pegawai yang bisa memenuhi standar kinerja, dan bisa memiliki kemauan untuk melayani pelanggan dan menarik minat pelanggan untuk mencoba laundry koin ini.

Cabang pertama Laundry Co. berada di kawasan apartemen Mediterania Palace, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Berhasil membangun cabang di Kemayoran, membuat ia dan keluarganya ingin mengembangkan usaha ke kawasan Kelapa Gading. Sayang, setelah pindah dua kali di area perumahaan tersebut, rupanya peruntungan belum didapat.

Angel dan keluarganya harus menutup usaha laundry koin di kawasan perumahan tersebut. Kesalahan usaha ini ada pada riset market yang kurang. Selain lokasi yang kurang strategis dan belum ada jenis laundry koin di Kelapa Gading saat itu. “Ternyata warga Kelapa Gading lebih banyak yang mencuci baju di rumah,” cerita Angel.

Hal ini tidak membuat Angel dan keluarga menyerah dan hanya beroperasi dengan satu cabang. Belajar dari kesalahan, usaha Laundry Co, mengembangkan usahanya dan menawarkan sistem franchise untuk Laundry Co. Setelah tutup toko di Kelapa Gading, cabang franchise Laundry Co. merambah ke area Serpong.

“Kami berikan sistem usaha dan operasional Laundry Co, investor yang ambil franchise kami tinggal menjalankan,” jelasnya.

 

Lakukan Riset Pasar

Belajar dari kesalahan, Angel dan keluarga selalu melakukan riset pasar dan lokasi laundry koin sebelum membuka cabang baru.

“Target utama harus jelas terlebih dahulu, untuk Laundry Co, target kami adalah penghuni apartemen dan rumah kos,” tuturnya.

Maka, selain mengembangkan model usaha franchise, terbentuklah beberapa cabang baru yang masih berjalan hingga sekarang, yaitu satu cabang lagi di area Kemayoran di hunian apartemen Mediterania Boulevard, di area Sumur Batu, Jakarta, dan dua cabang di area Serpong, yaitu ruko BSD dan Paramount Serpong.

Pasang surut sudah pasti terjadi dalam menjalankan usaha. Namun, setelah 5 tahun, bagi Angel menjalankan usaha keluarga setelah ia melepas posisinya sebagai karyawan swasta memiliki seni tersendiri dari sekadar menjalankan usaha milik sendiri.

Sebab menurut Angel, usaha keluarga itu nyatanya bukan sekadar patungan modal usaha tetapi bagaimana menghadapi batasan yang tidak jelas antar anggota keluarga.

“Yang paling berat adalah membagi tanggung jawab operasional dan pendisipilinan dalam menjalankan aturan pada tiap anggota keluarga masih menjadi tantangan. Jadi batasan kerja, pembagian untung, dan tanggung jawab operasional harus jelas, sebab sanksinya tidak mengikat seperti kalau bekerja di perusahaan milik orang lain,” cerita Angel.

 

Strategi Sukses

Selain strategi SDM dan operasional, yang tidak kalah penting menurut Angel adalah strategi pemasaran, riset lokasi, serta pengalaman, dan kesan yang dirasakan konsumen.

“Kualitas jasa itu nomor satu. Apa yang dicari orang di laundry koin, dan kenapa dia tidak mencuci sendiri? Satu, harus cepat, rapi, dan praktis. Dua, hasil cucian haruslah bersih dan wangi. Untuk itu, pemilihan sabun tidak boleh main-main. Ketiga, pegawai yang melayani juga harus ramah. Laundry koin di Indonesia beda dengan luar negeri, orang kita masih suka dilayani dengan ramah meski pelayanan laundry koin lebih minim dari laundry konvensional,” jelas wanita yang selalu turun tangan untuk melatih pegawai baru Laundry Co.

Kini, Laundry Co. juga merambah strategi pemasaran melalui media social, dan rutin melakukan promosi. Pasang surut Angel, dan keluarganya cukup berbuah manis. Laundry Co kini telah memiliki delapan pegawai.

Dengan modal berkisar kurang lebih 500 juta rupiah setiap cabang, kini Laundry Co. sudah mampu mendulang untung hingga 20 juta rupiah setiap bulannya untuk tiap cabang laundry.

 

Editor : Amran

x

Check Also

Bupati H Suyatno Serahkan Bansos Untuk 714 Orang Anak Yatim-Piatu

ROHIL – Bupati Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) H Suyatno AMP, Rabu, 18 September 2019, menyerahkan ...