Home » Opini » ‘Trust Building’ Prasyarat Mencapai Tujuan Organisasi

‘Trust Building’ Prasyarat Mencapai Tujuan Organisasi

Oleh : Dede Farhan Aulawi (Praktisi Neuro Leadership)

 

Setiap orang selalu mengatakan bahwa jika ada suatu persoalan, tinggal dikomunikasikan atau dikoordinasikan saja. Kalimat itu nampak benar. Tetapi ada sesuatu yang menggelitik, yaitu pokok persoalan itu sendiri adalah masalah komunikasi dan koordinasi.

Di zaman dimana umat manusia banyak dimanjakan oleh teknologi, nampaknya belum bisa mengoptimalkan azas kemanfaatan dari teknologi itu sendiri. Faktanya saat hampir semua orang menggunakan handphone sebagai alat komunikasi, tetapi masih banyak persoalan yang muncul ke permukaan, karena masalah komunikasi itu sendiri.

Pada hal pokok dari ilmu sumber daya manusia adalah kemampuan mengelola sumber daya yang terbatas (limited resources) untuk mencapai sasaran/ tujuan yang hendak dicapai dengan cara yang efektif dan efisien. Di dalamnya tentu bicara soal pemberdayaan, kompetensi, komunikasi, kepemimpinan, dan lain – lain.

Artinya kemampuan untuk bisa berkoordinasi dengan pihak – pihak terkait menjadi sangat penting, sebab tidak ada pekerjaan yang bisa dikerjakan sendiri. Setidaknya ada aturan yang membatasi tentang batas – batas kewenangan yang ‘boleh’, dan yang ‘tidak boleh’ dilakukan.

Ini buka soal berani atau tidak berani, melainkan soal ketentuan yang mengaturnya. Itulah sebabnya ada yang disebut dengan job description untuk menjelaskan pekerjaan – pekerjaan yang harus dilakukan sesuai dengan area tanggung jawabnya.

Sementara untuk menjamin kelangsungan koordinasi atau kerjasama yang baik, ada landasan yang perlu disepakati, yaitu Trust Building, membangun saling kepercayaan satu sama lain.

Jika konstruksi yang dibangun dalam sebuah organisasi mengedepankan ‘distrust’, maka percayalah bahwa sangat sulit untuk mencapai tujuan organisasi. Meskipun untuk membangun suatu ‘kepercayaan’ di tengah perbedaan sudut pandang, kepentingan dan perasaan, tentu tidak mudah. Tetapi satu hal yang pasti bahwa harus ada itikad mulia untuk memulai saling memberi kepercayaan itu sendiri.

Sulit memang untuk menemukan kosa kata yang akan selalu sama dalam berfikir, berkata dan berbuat, sebab memang bukan itu yang dicari. Kewajiban kita adalah menemukan sudut pandang yang sama terhadap suatu ‘subjek’ meskipun diambil dari sudut pandang yang berbeda.

Perbedaan sesungguhnya bukanlah sebuah ‘ancaman’, melainkan sebuah ‘tantangan’ agar kita mampu menemukan persamaan.

Ada hal yang menarik jika melihat hasil penelitian Neurosains modern yang menunjukkan bahwa otak manusia seringkali membuat ‘label perbedaan’ sebagai ancaman.

Lalu status ‘ancaman’ ini menyebabkan sulit dalam membangun kepercayaan karena hormon yg diproduksi oleh otak adalah hormon Cortizol atau hormon stress yang menyebabkan terhambatnya produksi hormon Oxytocin sebagai kunci membangun kepercayaan.

Lalu mungkin timbul suatu pertanyaan bagaimana agar otak bisa di program ulang agar perbedaan tidak dipersepsikan sebagai ancaman? Dalam konteks ini ada 3 kebiasaan yang perlu dilakukan secara berulang dan proporsional agar ditengah perbedaan masih bisa diciptakan konektifitas dan inklusifitas.

Kebiasaan pertama adalah kebiasaan untuk selalu berusaha agar menemukan kesamaan dengan pihak lain dari berbagai sudut pandang. Teknisnya dengan cara membangun komunikasi untuk bisa memahami pihak lain dan menemukan sambungan kesamaannya.

Kebiasaan kedua adalah kebiasaan untuk membuat orang lain merasa terangkat. Hargai dan apresiasi pandangan serta pemikirannya. Buatlah kondisi dialogis yang membuat orang lain merasa nyaman dan senang untuk didengarkan dan diminati.

Itulah sebabnya dalam membangun kemahiran komunikasi, setiap kita tidak sekedar dituntut untuk ‘active speaking’ tetapi juga harus ‘active listening’. Ternyata tidaklah cukup hanya dengan belajar berbicara, tetapi juga merupakan hal yang penting untuk bisa belajar mendengar.

Lalu kebiasaan ketiga adalah kebiasaan untuk menciptakan sense of clarity bersama about the future, yaitu kemampuan untuk menjelaskan mengapa harus melakukan sesuatu dan gambaran masa depan sejelas mungkin.

Tumbuhkanlah oxcytocyn yang terkait dengan rasa cinta yang holistik. Jangan lupa menterjemahkannya ke dalam sentuhan yang penuh dengan rasa ketulusan, sebab manusia tidak sekedar memahami bahasa fisik, tetapi juga memahami bahasa hati.

Begitupun dengan ambience dan luminensi menjadi penting karena terkait dengan siklus sirkadian (circadian cycle). Winter saat malam – malam panjang di Nordic area bisa membuat mood menjadi mellow, dopamin dan serotonin drop.

Siklus sirkadian juga memiliki efek yang berbeda pada respon radio terapi pasien kanker. Jam 6 – 8 merupakan jam mitosisnya kanker jadi pas utk diradiasi. Sementara sel mukosa normal replikasinya dari maghrib sampai jam 12 malam.

Kesimpulannya adalah bahwa guna mencapai ‘goal’ yang diharapkan, satu sama lain harus bisa bekerjasama dan berkoordinasi. Kata kunci dalam konstruksi ‘koordinasi’ sangat menuntut prasyarat untuk saling membangun kepercayaan. Jika satu sama lain memiliki karakter untuk tidak saling percaya (distrust), maka sangat sulit untuk mencapai tujuan organisasi.

Sementara itu dalam pendekatan neurosains, otak manusia sering menterjemahkan perbedaan sebagai sebuah ‘ancaman’. Jika model dan pola kerja otak seperti ini dibiarkan tentu tidak baik, maka diperlukan langkah – langkah untuk merubah kebiasaan atau alur algoritma otak ini.

Cara kerja dan sudut pandang kita terhadap suatu fenomena akan menentukan kesehatan otak dan sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu sudut pandang yang harus dikembangkan adalah sudut pandang yang positif dalam memandang berbagai fenomena yang ada.***

 

Editor : Amran

x

Check Also

ISIS Dibawah al-Quraishi

Oleh: Yanuardi Syukur Nama Abu Ibrahim Al-Hashimi Al-Quraishi (disingkat Al-Quraishi) yang dikabarkan menjadi pengganti Abu ...